Basis Dan Pendekatan Dakwah Multikultural

 

Basis dan Pendekatan Dakwah Multikultural

            Dakwah multikultural merujuk kepada konsep kebhinekaan yang bersifat multi dimensi yang meliputi aspek bahasa, warna kulit, budaya, suku, etnis, bangsa, dan agama. Bila merujuk kepada Al-Qur’an, kita akan menemukan bahwa fakta multikultural umat manusia merupakan kehendak sekaligus sunnatullah bagi kehidupan umat manusia sepanjang sejarah. Kita dapat melihat beberapa ayat berikut, sebagai basis dakwah multikultural.

QS. Al-Hujarat: 13

“Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mengenal”.13[1]

            Ayat ini menjelaskan tentang Allah Swt menciptakan manusia berbeda-beda suku, ras, dan bangsanya supaya saling mengenal. Melalui perkenalan itu mereka saling belajar, saling memahami, saling mengerti dan saling memperoleh manfaat, baik moril maupun materiil. Perkenalan itu niscaya menginspirasi semua pihak untuk menjadi lebih baik dari yang laindan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

            Pendekatan dakwah merupakan titik tolak atau sudut pandang kita terhadap dakwah. Pada umumnya, penentuan pendekatan dakwah didasarkan pada mitra dakwah dan harus tertumpu pada pandangan human oriented, dengan menempatkan pandangan yang mulia atas diri manusia sebagai mitra dakwah.[2] Pendekatan multikultural dalam dakwah merupakan suatu keniscayaan karena merupakan suatu kearifan dalam merespon dan mengantisipasi dampak globalisasi.lingkungan kehidupan masyarakat yang multikultural sangat sarat akan konflik.[3] Konflik yang sering terjadi sebagai berikut:[4]

a.     Konflik

Kondisi kemajemukan berpengaruh terhadap munculnyaa potensi konflik horizontal

b.      Munculnya sikap primordialisme

            Primordialisme yaitu paham yang memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak lahir, baik mengenai tradisi, kepercayaan maupun segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan pertamanya

            Sebagai contoh sikap primordialis adalah membentuk partai politik berdasarkan paham, ideologi, atau keterikatan pada faktor-faktor seperti suku bangsa, agama, dan ras, memberikan prioritas atau perlakuan istimewa kepada orang-orang yang berasal dari daerah, suku bangsa, agama, atau ras tertentu.

c.       Munculnya sikap etnosentrisme

            Etnosentrisme yaitu sikap atau pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaan sendiri, biasanya disertai dengan sikap dan pandangan yang meremehkan masyarakat dan kebudayaan lain

d.      Munculnya sikap fanatik dan ekstrim

e.       Politik aliran

            Idiologi non formal yang dianut oleh anggota organisasi politik dalam suatu negara

            Menjalankan aktivitas dakwah pada kalangan masyarakat yang multikultur memerlukan cara dan strategi tersendiri. Komunikasi yang baik dan tidak menyudutkan salah satu pihak dapat menjadikan dakwah diterima dengan baik oleh masyarakat. Dakwah pada masyarakat yang multikultur harus mampu menyajikan pengakuan doktrinal Islam terhadap keabsahan eksistensi kultur dan kearifan lokal yang tidak bertentangan dengan yauhid. Mengingat kondisi masyarakat Indonesia saat ini, dakwah tidak dapat hadir dengan wajah yang kaku dan selalu mengedepankan kebenaran.

            Cara pendekatan multikulturalisme dalam dakwah, yakni bertujuan untuk mencapai dua hal, yaitu titik temu dalam keberagaman, dan toleransi dalam perbedaan

Pendekatan dakwah multikulturalisme dibagi menjadi lima, yaitu:[5]

1.      Pendekatan dakwah multikultural menekankan agar target dakwah lebih diarahkan pada pemberdayaan kualitas umat dalam ranah internal, dan kerja sama serta dialog antar-agama dan budaya dalam ranah eksternal.

2.      Dalam ranah kebijakan publik dan politik dakwah multikultural menggagas ide tentang kesetaraan hak-hak warga negara (civil right), termasuk hak-hak kelompok minoritas.

3.      Dalam ranah sosial, dakwah multikultural memilih untuk mengambil pendekatan kultural ketimbang harakah (salafi jahidy).

4.      Dalam konteks pergaulan global, dakwah multikultural menggagas ide dialog antar-budaya dan keyakinan (intercultur-faith understanding).        

5.      Terkait dengan program seperti ini dalam poin keempat, para penggagas dakwah multikultural, merasa perlu untuk menyegarkan kembali pehamaman doktrindoktrin Islam klasik, dengan cara melakukan reinterpretasi dan rekonstruksi paham Islam, sesuai dengan perkembangan masyarakat global-multikultural.

          Dari penjelasan mengenai basis dan pendekatan multikultural, dapat disimpulkan bahwa pertama, Dakwah Multikultural berarti sebuah upaya dalam menciptakan keharmonisan di tengah-tengah masyarakat yang beragam dan tetap mampu mengendalikan diri dan bertoleransi terhadap segala bentuk perbedaan yang tidak mungkin disamaratakan dalam berbagai aspek.

          Kedua, dakwah dengan pendekatan multikultural adalah sebuah pemikiran dakwah yang concern pada penyampaian pesan- pesan Islam dalam konteks masyarakat plural dengan cara berdialog untuk mencari titik temu atau kesepakatan yang harus disepakati.

          Ketiga, basis dakwah multikultural sebenarnya terdapat dalam Al-Qur’an itu sendiri yang menegaskan bahwa fakwa multikultural umat manusia yang beragan dan berbeda satu sama lain merupakan kehendak sunnatullah bagi kehidupan.

          Keempat, pendekatan dakwah multikultural mencakup lima aspek, yakni: pendekatan dakwah multikultural menekankan agar target dakwah lebih diarahkan pada pemberdayaan kualitas umat dalam ranah internal, dan kerja sama serta dialog antar-agama dan budaya dalam ranah eksternal, Dalam ranah kebijakan publik dan politik dakwah multikultural menggagas ide tentang kesetaraan hak-hak warga negara (civil right), termasuk hak-hak kelompok minoritas, Dalam ranah sosial, dakwah multikultural memilih untuk mengambil pendekatan kultural ketimbang harakah (salafi jahidy), Dalam konteks pergaulan global, dakwah multikultural menggagas ide dialog antar-budaya dan keyakinan (intercultur-faith understanding), para penggagas dakwah multikultural, merasa perlu untuk menyegarkan kembali pehamaman doktrindoktrin Islam klasik, dengan cara melakukan reinterpretasi dan rekonstruksi paham Islam, sesuai dengan perkembangan masyarakat global-multikultural.



[1] Qs Al-Hujurat:13 https://quran.kemenag.go.id/sura/49

[2] Toto Asmara, Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), hlm. 43-44

[3] Turhamum, Multikulturalisme sebagai Realita Dalam Dakwah, KOMUNIKA, vol. 10, No.1. hlm 160

[4] Usfiyatul Marfu’ah, Strategi Komunikasi Dakwah Berbasis Multikultural, Islamic Communication Journal, vol. 2, No. 2, hlm. 158

[5] Zalprulkhan, Dakwah Multikultural, Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan, vol.8, No. 1, hlm. 173

Komentar