AKTIVITAS KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA VERBAL DAN NON-VERBAL DALAM DAKWAH
AKTIVITAS KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA VERBAL DAN NON-VERBAL DALAM DAKWAH
Setiap manusia yang hidup dalam masyarakat tidak akan pernah lepas dari komunikasi. Komunikasi merupakan proses aktivitas dasar manusia.
Komunikasi dapat terjadi apabila ada komunikator (orang yang menyampaikan pesan atau informasi) dan komunikan (orang yang menerima pesan).
Komunikasi pada dasarnya adalah penyampaian atau pengiriman pesan yang berupa pikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikator) untuk memberitahu guna mengubah sikap, pendapat dan perilaku baik secara langsung atau tidak, dan yang terpenting dalam proses penyampaian pesan itu harus jelas, agar tidak terjadi salah paham. Adapun perasaan bisa keyakinan, keraguan, kekhawatiran, kemarahan, keberanian dan lain-lain yang timbul dari hati.
Komunikasi antar budaya merupakan komunikasi biasa saja hanya orang-orang yang terlibat di dalamnya yang mempunyai latar belakang budaya yang berbeda. Sedangkan menurut Stewart L Tubbs dan Sylvia Moss dalam Deddy Mulyana menyebutkan bahwa komunikasi antar budaya adalah proses pertukaran pikiran dan makna antara orang-orang berbeda budaya
Komunikasi antar budaya pada dasarnya mengkaji Bagaimana budaya berpengaruh terhadap aktivitas komunikasi. Aktivitas komunikasi tersebut meliputi: Apa makna pesan verbal dan nonverbal menurut budaya-budaya yang bersangkutan, Apa yang layak dikomunikasikan, Bagaimana cara mengkomunikasikannya (verbal dan nonverbal), Kapan mengkomunikasikannya.
Komunikasi antar budaya memiliki 3 dimensi yaitu
1. Tingkat masyarakat kelompok budaya dari para pelaku komunikasi
2. Konteks sosial tempat terjadinya komunikasi antarbudaya
3. Saluran komunikasi yang dilalui oleh pesan-pesan komunikasi sosial budaya baik yang bersifat verbal maupun nonverbal.
Bagi seorang individu berkomunikasi dengan individu lain memerlukan pengetahuan tentang latar belakangnya. Beberapa syarat yang diperlukan individu untuk melakukan komunikasi antarbudaya secara efektif yaitu:
1. Adanya sikap menghormati anggota budaya lain sebagai manusia
2. Adanya sikap menghormati budaya lain sebagaimana adanya dan bukan sebagaimana yang kita kehendaki
3. Adanya sikap menghormati hak anggota budaya yang lain untuk bertindak berbeda dari cara kita bertindak
4. Komunikator lintas budaya yang kompeten harus belajar menyenangi hidup bersama orang dari budaya yang lain.
PERILAKU VERBAL DALAM KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Perilaku verbal adalah bentuk komunikasi verbal yang biasa kita lakukan sehari-hari. Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis symbol yang menggunakan kata-kata atau lebih.
Setiap diskusi tentang bahasa dalam peristiwa-peristiwa antar budaya harus mengikut sertakan pembahasaan atas isu-isu bahasa yang umum sebelum membahas masalah-masalah khusus tentang bahasa asing, penerjemahan bahasa dan dialek serta logat sub-kultur dan sub-kelompok. Untuk itu, bila kita membicarakan berbagai dimensi budaya kita juga akan membicarakan bahasa verbal dan relevansinya dengan pemahaman kita tentang budaya. (Mulyana & Rakhmat, 2005)
Menurut Ohoiwutun (1997)dalam Liliweri (2003), dalam berkomunikasi antar budaya ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu;
1) Kapan Orang Berbicara
Jika kita berkomunikasi antar budaya perlu diperhatikan ada kebiasaan (habits) budaya yang mengajarkan kepatutan kapan seorang harus atau boleh berbicara. Sebagai contoh
• Orang Timor, Batak, Sulawesi, Ambon, Irian, mewarisi sikap kapan saja bisa berbicara, tanpa membedakan tua dan muda, artinya berbicara semaunya saja, berbicara tidak mengenal batas usia.
• Namun orang Jawa dan Sunda mengenal aturan atau kebiasaan kapan orang berbicara, misalnya yang lebih muda mendengarkan lebih banyak daripada yang tua, yang tua lebih bayak berbicara dari yang muda.
Perbedaan norma berbahasa ini dapat mengakibatkan konflik antarbudaya hanya karena salah memberikan makna kapan orang harus berbicara.
2) Apa yang Dikatakan
Laporan penelitian Tannen (1984-an) menunjukan bahwa orang-orang New York keturunan Yahudi lebih cenderung bercerita dibanding dengan teman-temannya di California. Cerita mereka(New York Yahudi) selalu terkait dengan pengalaman dan perasaan pribadi .Masing-masing anggota kelompok kurang tertarik pada isi cerita yang di-kemukakan anggota kelompok lainnya .
3) Hal Memperhatikan
Konsep ini berkaitan erat dengan gaze atau pandangan mata yang diperkenankan waktu berbicara bersama-sama.
• Orang-orang kulit hitam biasanya berbicara sambil menatap mata dan wajah orang lain, hal yang sama terjadi bagi orang Batak dan Timor. Dalam berkomunikasi ‘memperhatikan’ adalah melihat bukan sekedar mendengarkan.
• Sebaliknya orang Jawa tidak mementingkan ‘melihat’ tetapi mendengarkan.
Anda membayangkan jika seorang Jawa sedang berbicara dengan orang Timor yang terus menerus menatap mata orang Jawa ,maka si Jawa merasa tidak enak dan bahkan menilai orang Timor itu sangat kurang ajar. Sebaliknya orang Timor merasa dilecehkan karena si Jawa tidak melihat dia waktu memberikan pengarahan.
4) Intonasi
Masalah intonasi cukup berpengaruh dalam berbagai bahasa yang berbeda budaya . Orang kadang di Lembata/Flores memakai kata bua berarti melahirkan namun kata yang sama kalau di tekan pada huruf akhir’a’-bua’(atau buaq),berarti berlayar ;kata laha berarti marah tetapi kalau disebut tekanan di akhir ‘a’-lahaq merupakan maki yang merujuk pada alat kelamin laki-laki.
5) Gaya Kaku atau Puitis
Ohoiwutun (1997:105) menulis bahwa jika anda membandingkan bahasa Indonesia yang diguratkan pada awal berdirinya Negara ini dengan gaya yang dipakai dewasa ini, dekade 90-an maka anda akan dapati bahwa bahasa Indonesia tahun 1950-an lebih kaku. Gaya bahasa sekarang lebih dinamis lebih banyak kata dan frase dengan makna ganda, tergantung dari konteksnya. Perbedaan ini terjadi sebagai akibat perkembangan bahasa. Tahun 1950-an bahasa Indonesia hanya dipengaruhi secara dominan oleh bahasa Melayu.
Dewasa ini puluhan bahasa daerah, teristimewa bahasa Jawa dengan puluhan juta penutur aslinya, telah ikut mempengaruhi ‘ formula’ berbahasa Indonesia.
6) Bahasa Tidak Langsung
Setiap bahasa mengajarkan kepada para penuturnya mekanisme untuk menyatakan sesuatu secara langsung atau tidak langsung.
• Jika anda berhadapan dengan orang Jepang, maka anda akan menemukan bahwa mereka sering berbahasa secara tidak langsung, baik verbal maupun non verbal.
• Dalam berbisnis, umumnya surat bisnis Amerika, menyatakan maksudnya dalam empat paragraph saja.
PERILAKU NON VERBAL DALAM KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Secara sederhana, pesan non verbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata. Menurut Larry A. Samovar dan Richard E. Porter (1991), komunikasi non verbal mencakup semua rangsangan kecuali rangsangan verbal dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh individu, yang mempunyai nilai pesan potensial bagi pengirim atau penerima; jadi definisi ini mencakup perilaku yang disengaja juga tidak disengaja sebagai bagian dari peristiwa komunikasi secara keseluruhan; kita mengirim banyak pesan nonverbal tanpa menyadari bahwa pesan-pesan tersebut bermakna pada orang lain.
Sebenarnya sangat banyak aktivitas yang merupakan perilaku non verbal ini, akan tetapi yang berhubungan dengan komunikasi antar budaya ini biasanya adalah sentuhan.
Sentuhan sebagai bentuk komunikasi dapat menunjukkan bagaimana komunikasi non verbal merupakan suatu produk budaya. Di Jerman kaum wanita seperti juga kaum pria biasa berjabatan tangan dalam pergaulan sosial; di Amerika Serikat kaum wanita jarang berjabatan tangan. Di Muangthai, orang-orang tidak bersentuhan (berpegangan tangan dengan lawan jenis) di tempat umum, dan memegang kepala seseorang merupakan suatu pelanggaran sosial.
Suatu contoh lain adalah kontak mata. Di Amerika Serikat orang dianjurkan untuk mengadakan kontak mata ketika berkomunikasi. Di Jepang kontak mata seringkali tidak penting. Dan beberapa suku Indian Amrika mengajari anak-anak mereka bahwa kontak mata dengan orang yang lebih tua merupakan tanda kekurangsopanan. Seorang guru sekolah kulit putih di suatu pemukiman suku Indian tidak menyadari hal ini dan ia mengira bahwa murid-muridnya tidak berminat bersekolah karena murid-muridnya tersebut tidak pernah melihat kepadanya.
Sebagai suatau komponen budaya, ekspresi non verbal mempunyai banyak persamaan dengan bahasa. Keduanya merupakan sistem penyandian yang dipelajari dan diwariskan sebagai bagian pengalaman budaya. Lambang-lambang non verbal dan respon-respon yang ditimbulkan lambang-lambang tersebut merupakan bagian dari pengalaman budaya – apa yang diwariskan dari suatu generasi ke generasi lainnya. Setiap lambang memiliki makna karena orang mempunyai pengalaman lalu tentang lambang tersebut.
Liliweri (2003) mengatakan bahwa ketika berhubungan antarpribadi maka ada beberapa faktor dari pesan non verbal yang mempengaruhi komunikasi antarbudaya. Ada beberapa bentuk perilaku non verbal yakni: (1) kinesik; (2) okulesik, dan (3) haptiks; (4) proksemik; dan (5) kronemik.
1. Kinesik, adalah studi yang berkaitan dengan bahasa tubuh, yang terdiri dari posisi tubuh, orientasi tubuh, tampilan wajah, gambarang tubuh, dll. Tampaknya ada perbedaan antara arti dan makna dari gerakan-gerakan tubuh atau anggota tubuh yang ditampilkan tersebut.
2. Okulesik, adalah studi tentang gerakan mata dan posisi mata. Ada perbedaan makna yang ditampilkan alis mata diantara manusia. Setiap variasi gerakan mata atau posisi mata menggambarkan satu makna tertentu, seperti kasih sayng, marah, dll. Orang Amerika Utara tidak membenarkan seorang melihat wajah mereka kalau mereka sedang berbicara. Sebaliknya, orang Kamboja yakin bahwa setiap pertemuan didahului oleh pandangan mata pertama, namun melihat seorang adalah sesuatu yang bersifatprivacy sehingga tidak diperkenankan memandang orang lain dengan penuh nafsu.
3. Haptik, adalah studi tentang perabaan atau memperkenankan sejauh mana seseorang memegang dan merangkul orang lain. Banyak orang Amerika Utara merasa tidak nyaman ketika seseorang dari kebudayaan lain memegang tangan mereka dengan ramah, menepuk belakang dan lain-lain. Ini menunjukkan – derajat keintiman: fungsional/profesional, sosial dan sopan santun, ramah tamah dan baik budi, cinta dan keintiman, dan daya tarik seksual.
4. Proksemik, studi tentang hubungan antar ruang, antar jarak, dan waktu berkomunikasi, sebagaimana dikategorikan oleh Hall pada tahun 1973, kecenderungan manusia menunjukkan bahwa waktu orang berkomunikasi itu harus ada jarak antarpribadi, terlalu dekat atau terlalu jauh. Makin dekat artinya makin akrab, makin jauh arinya makin kurang akrab.
5. Kronemik, adalah studi tentang konsep waktu, sama seperti pesan non verbal yang lain maka konsep tentang waktu yang menganggap kalu suatu kebudayaan taat pada waktu maka kebudayaan itu tinggi atau peradaban maju. Ukuran tentang waktu atau ketaatan pada waktukemudian menghailkan pengertian tentang orang malas, malas bertnggungjawab, orang yang tidak pernah patuh pada waktu.
6. Tampilan, apperance – cara bagaimana seorang menampilakn diri telah cukup menunjukkan atau berkolerasi sangat tinggi dengan evaluasi tentang pribadi. Termasuk di dalamnya tampilan biologis misalnya warna kulit, warna dan pandangan mata, tekstur dan warna rambut, serta struktur tubuh. Ada stereotip yang berlebihan terhadap perilaku seorang dengan tampilan biologis. Model pakaian juga mempengaruhi evaluasi kita pada orang lain. Dalam sebagian masyarakat barat, jas dan pakaian formal merefleksikan profesionalisme, karen itu tidak terlihat dalam semua masyarakat.
7. Posture, adalah tampilan tubuh waktu sedang berdiri dan duduk. Cara bagaimana orang itu duduk dan berdiri dapat diinterpretasi bersama dalam konteks antarbudaya. Kalau orang Jawa dan orang Timor (Dawan) merasa tidak bebas jika berdiri tegak di depan yang orang yang lebih tua sehingga harus merunduk hormat, sebaliknya duduk bersila berhadapan dengan orang yang lebih tua merupakan sikap yang sopan.
8. Pesan-pesan paralinguistik antarpribadi adalah pesan komunikasi yang merupakan gabungan anatara perilaku verbal dan non verbal. Paralinguistik terdiri dari satu unit suara, atau gerakan yang menampilkan maksud tertentu dengan makna tertentu. Paralinguistik juga berperan besar dalam komunikasi antarbudaya. Contoh, orang Amerika yang berbicara terlalu keras acapkali oleh orang eropa dipandang terlalu agresif atau tanda tidak bersahabat. Orang Inggris yang berbicara pelan dan hati-hati dipahami sebagai sekretif bagi Amerika.
9. Simbolisme dan komunikasi non verbal yang pasif – beberapa di antarnya adalah simbolisme warna dan nomor. Di Amerika Utara, AS dan Canada, warna merah menunjukkan peringatan, daya tarik seks, berduka, merangsang. Sedangkan warna kuning menggambarkan kesenangan dan kegembiraan. Warna biru berarti adil, warna bisnis sehingga dipakai di perkantoran. Warna hitam menunjukkan kematian, kesengsaraan, dosa, kegagalan dalam bisnis dan seksi. Sebaliknya warna merah di Brazil adalah yang menunjukkan jarak penglihatan, hitam melambangkan kecanggihan, kewenangan, agama dan formalitas.
Komunikasi Lintas Budaya Sebagai Sarana Dakwah
Komunikasi terjadi minimal dua orang baik keduanya memiliki latar belakang budaya yang sama atau berbeda. Dari sini maka komunikator (da'i) lintas budaya apabila pesan dakwahnya dapat dipahami oleh para Mitra dakwah harus bisa mengelola komunikasi secara efektif.
Menurut Deresky seperti dikutip oleh Wibowo (2016: 367-369)
1. Pengembangan sensitifitas kultural (Developing Cultural Sensitivity) yaitu kemampuan komunikator atau Dai memahami budayanya sendiri serta memahami budaya yang diajak bicara dalam hal ini Mitra dakwah
2. Encoding dengan berhati-hati ( Carefull Encoding) yaitu keterampilan komunikator atau Dai dalam mengalihbahasakan suatu makna atau pengertian ke dalam simbol atau isyarat secara tepat kepada Mitra dakwah
3. Selektif transmisi (Selective Transmision) yaitu kepiawaian komunikator atau dai menggunakan media yang cocok dan tepat untuk menyampaikan pesan
4. Decoding berhati-hati (Carefully Decoding of Feedback) yaitu percakapan komunikator atau dari dalam memaknai dan menafsirkan simbol sehingga tidak terjadi kesalahpahaman diantara pengirim pesan dan menerima pesan
5. Tindak lanjut yang tepat (Follow-up Action) yaitu keterampilan komunikator atau Dai secara personal dalam berperilaku baik itu Perilaku verbal maupun nonverbal
Inilah beberapa hal yang harus menjadi perhatian oleh komunikator atau Da'i dalam mengelola komunikasi lintas budaya yang efektif sehingga proses pengiriman pesan pesan dakwah kepada para komunikan atau Mitra dan uap yang multikultur tersebut diharapkan dapat tersampaikan dengan tepat dipahami oleh mereka serta ada Umpan balik atau feedback dari si penerima pesan.
Komentar
Posting Komentar