HAMBATAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM DAKWAH MULTIKULTURAL MODERN


Fenomena dakwah dalam kehidupan modern yang ditandai dengan peningkatan kualitas perubahan sosial yang lebih jelas, sudah meninggalkan fase transisi globalisasi. Hambatan komunikasi antarbudaya (intercultural communication barriers) adalah faktor-faktor baik fisik maupun psikologis yang dapat mencegah atau menghalangi terjadinya komunikasi yang efektif (DeVito, 2013).
Hal ini dapat disebabkan karena kebudayaan menyediakan cara-cara berpikir bagi manusia; cara melihat, mendengar, dan menerjemahkan dunia sehingga satu kata dapat dimaknai berbeda oleh orang-orang yang berbeda kebudayaan, bahkan meski mereka berbicara dalam bahasa yang sama. 
Menurut Barna (1994), faktor penghambat dalam komunikasi antar budaya adalah sebagai berikut: 
(a) Andaian kesamaan , Kesalahpahaman dapat muncul karena kita sering berpikir bahwa ada kesamaan di antara setiap manusia di seluruh dunia yang dapat membuat proses berkomunikasi menjadi mudah. Padahal kenyataannya, bentuk-bentuk adaptasi terhadap kebutuhan baik biologis maupun sosial serta nilai-nilai, kepercayaan, dan sikap di sekeliling kita adalah sangat berbeda antara budaya satu dengan yang lain. Oleh karena itu tidak adanya satu tolak ukur yang dapat digunakan sebagai acuan untuk pemahaman tersebut, maka sebaiknya setiap pertemuan antarbudaya kita perlakukan secara khusus dengan cara mencari tahu perihal apa saja yang berhubung kait dengan makna-makna persepsi dan komunikasi yang dipegang oleh kelompok budaya yang kita hadapi. 
(b) Perbedaan bahasa, Permasalahan dalam penggunaan bahasa adalah apabila seseorang hanya memperhatikan satu makna saja dari satu kata atau frasa yang ada pada bahasa baru, tanpa mempedulikan konotasi atau konteksnya.
(c) Kesalahan interpretasi non-verbal, Orang-orang dari budayayang berbeda mendiami realitas sensori yang berbeda pula. Mereka melihat, mendengar, dan merasakan hanya pada apa yang dianggap bermakna bagi mereka. 
(d) Stereotip dan Prasangka, Stereotip merupakan penghalang dalam komunikasi sebab dapat mempengaruhi cara pandang yang objektif terhadap suatu stimulus. Stereotip muncul karena ia telah ditanamkan dengan kuat sebagai mitos atau kebenaran sejati oleh kebudayaan seseorang dan terkadang merasionalkan prasangka. 
(e) Kecenderungan untuk menghakimi/menilai, Faktor penghalang lainnya untuk memahami orang-orang yang berbeda budaya adalah kecenderungan untuk menghakimi, untuk menerima, atau menolak pernyataan dan tindakan dari orang atau kelompok lain, sebelum memahami pikiran dan perasaan yang disampaikan oleh orang itu sesuai sudut pandangnya. 
(f) Kecemasan tinggi, Untuk dapat disebutkan sebagai orang yang cakap atau kompeten dalam berkomunikasi antarbudaya, seseorang harus mampu mengatasi berbagai masalah yang ada, termasuk rasa khawatir atau cemas ketika berinteraksi dengan individu dari budaya yang berbeda. 
Komunikasi yang efektif dapat terwujud bila strategi yamg digunakan tepat. Strategi komunikasi yang efektif sangat penting diperhatikan dalam sebuah proses komunikasi. Seperti yang disampaikan oleh Onong yang menyatakan bahwa:
Di kalangan militer terdapat ungkapan yang sangat terkenal yang bebunyi: “To win the war, not to win the battle”  yang jika diterjemahkan berarti: “Memenangkan perang, bukan memenangkan pertempuran”. Fokus perhatian ahli komunikasi ini memang penting ditujukan kepada strategi komunikasi, karena behasil tidaknya kegiatan komunikasi secara efektif banyak ditentukan oleh strategi komunikasi. 
Strategi komunikasi pelu diperhatikan dengan maksimal karena fungsinya yang begitu urgent. Onong menggambarkan bahwa fungsi strategi komunikasi itu ganda, yaitu:
Pertama, menyebarkan pesan komunikasi yag bersifat informatif, persuasif, dan instruktif secara sistematik kepada sasaran untuk memperoleh hasil optimal. Kedua, menjembatani “cultural gap” akibat kemudahan diperolehnya dan kemudahan dioperasionalkannya media massa yang begitu ampuh, yang jika dibiarkan akan merusak nilai-nilai budaya.
Sebagaimana Al-Qur’an menjelaskan bahwa Allah SWT tidak mengutus seorang Rasul melainkan dengan bahasa kaumnya, artinya dalam konteks komunikasi antar budaya yang sesuai adalah “Berbicaralah dengan bahasa mereka”. Jargon ini adalah kunci penting dalam mewujudkan komunikasi. 
Seorang komunikator yang baik adalah mereka yang memiliki kemampuan berbahasa (verbal dan non-verbal) yang dipahami oleh komunikannya. Komunikasi yang efektif dengan orang lain akan berhasil apabila kita mampu memilih dan menjalankan teknik-teknik berkomunikasi, serta menggunakan bahasa yang sesuai dengan latar belakang mereka.

Komentar